Scroll media sosial sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak orang. Saat menunggu, sedang bosan, bahkan sebelum tidur, tangan sering otomatis membuka TikTok, Instagram, X, atau platform lainnya.
Awalnya, aktivitas ini terasa menyenangkan. Kita bisa melihat konten lucu, mengetahui kabar teman, mengikuti tren, hingga menemukan informasi baru.
Namun, terlalu lama scroll media sosial justru bisa membuat suasana hati berubah. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, seseorang bisa merasa kosong, lelah, tidak puas dengan hidup, bahkan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.
Lantas, kenapa kebiasaan yang awalnya terasa menghibur justru bisa membuat kita makin tidak bahagia?
Terlalu Sering Membandingkan Diri
Salah satu alasan utama muncul dari kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain.
Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain. Ada yang membagikan foto liburan, pekerjaan baru, hubungan romantis, kendaraan, rumah, atau pencapaian lainnya.
Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari dengan versi terbaik kehidupan orang lain di media sosial.
Kita mungkin sedang menghadapi banyak masalah, sementara orang lain hanya mengunggah momen ketika mereka merasa bahagia.
Jika kebiasaan ini terus berlangsung, rasa tidak puas terhadap diri sendiri bisa semakin kuat.
Media Sosial Membuat Kita Ingin Terus Scroll
Pernah berniat membuka media sosial selama lima menit tetapi akhirnya menghabiskan waktu satu jam?
Hal tersebut cukup mudah terjadi karena platform media sosial menawarkan banyak konten secara terus-menerus. Setelah satu video selesai, muncul video lain yang menarik.
Kita pun terus mencari konten berikutnya tanpa menyadari waktu yang sudah berlalu.
Pada akhirnya, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk tidur, berolahraga, membaca, belajar, atau berbicara dengan orang terdekat justru habis untuk scrolling.
Ketika menyadari waktu terbuang, kita bisa merasa menyesal atau kesal kepada diri sendiri.
Terlalu Banyak Informasi Bisa Membuat Pikiran Lelah
Media sosial memberikan informasi dalam jumlah besar setiap hari.
Dalam beberapa menit saja, kita bisa melihat berita, hiburan, konflik, promosi produk, opini orang lain, hingga berbagai masalah yang terjadi di berbagai tempat.
Otak terus menerima rangsangan baru. Jika berlangsung terlalu lama, aktivitas tersebut dapat membuat pikiran terasa penuh.
Akibatnya, seseorang mungkin sulit menikmati waktu tanpa layar karena sudah terbiasa mendapatkan informasi secara cepat.
Istirahat dari media sosial dapat membantu memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari berbagai rangsangan tersebut.
Konten Negatif Bisa Memengaruhi Suasana Hati
Tidak semua konten yang muncul di media sosial bersifat positif.
Berita buruk, konflik, komentar kasar, perdebatan, dan konten yang memancing kemarahan juga mudah muncul di beranda.
Jika seseorang terus mengonsumsi konten seperti itu, suasana hati dapat ikut berubah.
Kita bahkan bisa merasa kesal terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan kehidupan pribadi.
Karena itu, penting untuk memperhatikan jenis konten yang sering muncul di beranda. Jika sebuah akun atau topik membuat kita terus merasa buruk, tidak ada salahnya mengurangi paparan terhadap konten tersebut.
Baca juga: Gaji Naik Tapi Tetap Merasa Kekurangan? Mungkin Ini Kesalahan Gaya Hidupmu
Membuat Standar Hidup Terlihat Tidak Realistis
Media sosial juga dapat membuat kehidupan orang lain terlihat jauh lebih sempurna.
Seseorang mungkin melihat influencer dengan tubuh ideal, rumah bagus, karier sukses, hubungan romantis, dan kehidupan yang terlihat menyenangkan.
Jika terus melihat konten seperti itu, standar mengenai kehidupan yang “ideal” bisa berubah.
Kita mungkin mulai merasa harus memiliki bentuk tubuh tertentu, memakai barang tertentu, pergi ke tempat tertentu, atau mencapai kesuksesan pada usia tertentu.
Padahal, kehidupan setiap orang memiliki jalur yang berbeda.
Tidak semua hal yang terlihat di media sosial menggambarkan kondisi sebenarnya. Banyak orang hanya membagikan bagian kehidupan yang memang ingin mereka tunjukkan.
Scroll Media Sosial Bisa Mengurangi Waktu Berkualitas
Coba perhatikan apa yang terjadi ketika sedang berkumpul bersama teman atau keluarga.
Tidak jarang beberapa orang tetap memegang ponsel dan sesekali membuka media sosial.
Kebiasaan tersebut dapat mengurangi kualitas interaksi secara langsung.
Padahal, berbicara, tertawa, melakukan aktivitas bersama, atau sekadar menikmati waktu tanpa ponsel bisa memberikan pengalaman yang berbeda.
Jika sebagian besar waktu luang habis untuk melihat kehidupan orang lain melalui layar, kita bisa kehilangan kesempatan menikmati kehidupan sendiri.
Mengapa Setelah Scroll Kita Kadang Merasa Kosong?
Perasaan kosong setelah scrolling dapat muncul ketika aktivitas tersebut tidak benar-benar memenuhi kebutuhan yang kita cari.
Misalnya, kita membuka media sosial karena bosan. Setelah satu jam, rasa bosan mungkin tetap ada.
Kita juga bisa membuka media sosial karena ingin mendapatkan hiburan. Namun, setelah terlalu banyak melihat konten, pikiran justru terasa lelah.
Artinya, tidak semua waktu kosong harus diisi dengan scrolling.
Kadang, berjalan sebentar, mendengarkan musik, membaca buku, berbicara dengan teman, atau melakukan hobi justru memberikan kepuasan yang lebih baik.
Bukan Berarti Harus Berhenti Total dari Media Sosial
Media sosial sebenarnya tidak selalu buruk.
Platform tersebut dapat membantu kita berkomunikasi, mendapatkan informasi, menemukan komunitas, mempromosikan bisnis, hingga mencari hiburan.
Masalahnya lebih sering muncul ketika penggunaan media sosial sudah sulit dikendalikan.
Karena itu, kita tidak harus langsung menghapus semua aplikasi. Coba mulai dengan membatasi waktu penggunaan.
Matikan notifikasi yang tidak penting, hindari membuka media sosial saat sedang bekerja, dan beri jarak antara penggunaan ponsel dengan waktu tidur.
Kita juga bisa memilih akun yang memberikan informasi bermanfaat dan mengurangi konten yang membuat diri sendiri terus membandingkan kehidupan.
Mulai Kurangi Scrolling dan Perhatikan Perubahannya
Kalau akhir-akhir ini merasa mudah lelah, sulit fokus, sering membandingkan diri, atau merasa tidak puas setelah menggunakan media sosial, coba perhatikan kebiasaan scrolling.
Tidak perlu langsung membuat perubahan besar. Mulailah dengan mengurangi durasi penggunaan sedikit demi sedikit.
Gunakan waktu yang sebelumnya habis untuk scrolling dengan aktivitas yang benar-benar memberikan manfaat bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan aktivitas yang menguasai kehidupan kita.
Jika setelah menggunakan media sosial kita justru merasa semakin tidak bahagia, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali cara kita menggunakannya.
